AMELOBLASTOMA
A. BATASAN
Ameloblastoma merupakan suatu tumor epitelial
odontogenik yang berasal dari jaringan pembentuk gigi, bersifat jinak, tumbuh
lambat, penyebarannya lokal invasif dan destruktif serta mengadakan proliferasi
ke dalam stroma jaringan ikat.
B. ETIOLOGI
Etiologi ameloblastoma sampai saat ini belum diketahui dengan
jelas, tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa ameloblastoma dapat terjadi
setelah pencabutan gigi, pengangkatan kista dan atau iritasi lokal dalam rongga
mulut.
C. PATOFISIOLOGI
Patogenesis dari tumor ini, melihat adanya
hubungan dengan jaringan pembentuk gigi atau sel-sel yang berkemampuan untuk
membentuk gigi tetapi suatu rangsangan yang memulai terjadinya proliferasi
sel-sel tumor atau pembentuk ameloblastoma belum diketahui. Shafer dkk (1983)
mengemukakan kemungkinan ameloblastoma berasal dari sumber-sumber ; sisa sel
organ enamel, gangguan pertumbuhan organ enamel, epitel dinding kista
odontogenik terutama kista dentigerous dan sel epitel basal permukaan rongga
mulut. Ameloblastoma terjadi karena kesalahan aktivitas sel pada saat proses
odontogenesis (Suprapti, 2009)
Ameloblastoma dapat terjadi pada segala usia,
namun paling banyak dijumpai pada usia dekade 4 dan 5. Tidak ada perbedaan
jenis kelamin, tetapi predileksi pada golongan penderita kulit berwarna.
Ameloblastoma dapat mengenai mandibula maupun maksila, paling sering pada
mandibula sekitar 81% - 98%, predileksi di daerah mandibula; 60% terjasi
diregio molar dan ramus, 15% regio premolar dan 10% regio simpisis.
D. DIAGNOSIS
Gambaran klinik, dalam
tahap awal jarang menunjukkan keluhan, oleh karena itu tumor ini jarang
terdiagnosa secara dini, umumnya diketahui setelah 4 sampai dengan 6 tahun.
Pembengkakan dengan berbagai ukuran yang bervariasi sehingga dapat menyebabkan
deformitas wajah, warna sama dengan jaringan sekitarnya, konsistensi bervariasi
ada yang keras dan kadang ada bagian yang lunak, berbatas tegas, terjadi
ekspansi tulang ke arah bukal dan lingual, tumor ini meluas ke segala arah
mendesak dan merusak tulang sekitarnya, terdapat tanda egg shell
cracking atau pingpong ball phenomena bila massa
tumor telah mendesak korteks tulang dan tulangnya menipis, tidak ada rasa nyeri
dan tidak ditemukan parastesi, mukosa sekitas tumor tidak mengalami ulserasi.
Hanya pada beberapa penderita benjolan disertai rasa nyeri, berkurangnya
sensibilitas daerah distribusi mentalis dan kadang-kadang terdapat ulserasi
oleh karena penekanan gigi apabila tumor sudah mencapai ukuran besar. Dapat
dilakukan fungsi aspirasi biasanya berisi cairan berwarna merah kecoklatan.
Gigi geligi pada daerah tumor berubah letak dan goyang. Bila terjadi infeksi
sekunder maka ulserasi, fistula bahkan jaringan granulasi pun dapat dijumpai,
demikian juga rasa nyeri, parestesi dan tanda-tanda inflamasi.
Gambaran radiologis
berupa lesi unilokuler atau multilokuler dengan gambaran seperti sarang
tawon (honey comb appearance) pada lesi yang kecil dan gambaran
busa sabun (soap bubble appearance) pada lesi yang besar. Hal ini
merupakan proses osteolitik, karena ameloblastoma tumbuh secara lambat, secara
radiologis tepinya berbatas jelas halus, corticated dan curved, terdapat
resorpsi akar dan bergesernya gigi jauh dari tempat asal. Menurut gambaran
radiologis ameloblastoma dibagi menjadi 3, yaitu: konvensional
solid/multikistik (86%). unikistik (13%) dan ekstra osseous (1%).
E. PENATALAKSANAAN
Terapi utama pada ameloblastoma adalah
pembedahan. Masih terdapat perdebatan mengenai metode pembedahan yang tepat
pada maloblastoma, Penatalaksanaan yang tepat masih diperdepatkan. Tingkat
rekurensi berkisar antara 55-90% setelah perawatan secara konsevatif. Mengingat
besarnya tingkat rekurensi tersebut, pendekatan secara radikal (reseksi) dapat
dipertimbangkan sesuai indikasi, meskipun berakibat hilangnya sebagaian tulang
rahang, bridging plate titanium dapat digunakan untuk
mengganti sebagian tulang yang hilang dan berfungsi sebagai alat rekonstruksi.
Dapat juga rekonstruksi dengan memasang tandur ahli tulang kalau mungkin bisa
dikerjakan.
Indikasi perawatan ditentukan berdasarkan luas
dan besarnya jaringan yang terlibat, struktur histologis dari tumor dan
keuntungan yang didapat. Menurut Ohishi indikasi perawatan konservatif adalah
pada penderita usia muda dan ameloblastoma unikistik. Sedangkan indikasi
perawatan radikal adalah ameloblastoma tipe solid dengan tepi yang tidak jelas,
lesi dengan gambaran soap bubble, lesi yang tidak efektif dengan
penatalaksanaan secara konservatif dan ameloblastoma ukuran besar.
Penatalaksanaan secara radikal berupa reseksi segmental, hemimandibulektomi dan
reseksi marginal (reseksi enblok).
Reseksi marginal (reseksi enblok) merupakan teknik untuk
mengangkat jaringan tumor dengan mempertahankan kontinuitas korteks tulang
mandibula bagian bawah yang masih intak. Reseksi enblok ini dilakukan secara
garis lurus dengan bor dan atau pahat atau gergaji, 1-2 cm dari tepi batas
tumor secara rontgenologis yang diperkirakan batas minimal reseksi. Adapun
tindakan dapat dilakukan secara intra oral maupun ekstra oral, hal ini
tergantung pada seberapa besar untuk mendapat eksposure yang adekuat sampai ke
ekstensi tumor.
Rekontruksi mandibula adalah ditinjau dari
fungsi dan kosmetik, organ ini mempengaruhi bentuk wajah, fungsi bicara,
mengunyah dan menelan. Beberapa cara yang dapat dipakai antara lain dengan
menggunakan bahan aloplastik, misalnya bridging plate titanium dan autogenous
bone grafting misalnya tandur tulang iga, krista iliaka dan tibia
serta dapat juga secara kombinasi aloplastik material dengan autogenous bone
grafting.
Perawatan pasca operasi reseksi enblok
mandibula: medikasi antibiotik dan analgetik, tidak perlu intermaksila fiksasi.
Hindarkan trauma fisik pada muka atau rahang karena dapat menyebabkan fraktur
mandibula. Jaga oral hygiene hingga luka operasi sembuh sempurna. Diet lunak
dipertahankan 4-6 minggu. Jika diperlukan dapat dibuatkan prostesi gigi setelah
dipertimbangkan bahwa telah terjadi internal bone remodeling tulang mandibula,
lebih kurang 6 bulan pasca operasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar